Sabtu, 17 September 2011

Ini ceritanya, tentang kami.

Awal?
Aku sering nggak berkutik kalau tiba-tiba ada seseorang yang muncul didepanku dan bertanya tanpa tedeng aling-aling seperti; "fre, awalnya kamu bisa deket sama stella sama ozza gitu gimana sih?"

Sekali lagi, awal? Aduh, halu, kamu tanya ke aku terus aku bisa tanya ke siapa? Coba tengok ke Sute (aka Stella) dulu. Yah, dia pasti bilang, "Iyoyo kok isok yo kita deket gini yo? Saling cocok paling. Tapi eman yo, baru ketahuan klop-nya mendekati kenaikan kelas."

...........................

Alalah, jangan suruh aku tanya ke Oja (aka Ozza), karena dia juga pasti nggak ingat :p

Oke, dicoba berpikir-pikir dulu ke belakang. Awal masuk... Aku cuma sekadar kenal sama Sute-dan menganggap dia unik, anak Jakarta nyeleneh yang juga fasih berJowo ria-dan aku bahkan nggak tahu Ozza itu yang mana.

Fast-forward, waktu ulangan? Waktu liburan? Waktu 17-an? Nggak juga. Aku anak yang cenderung diam dan menutup diri, dan sepertinya memang butuh waktu lama untuk mengupas helai demi helai kepribadian anak-anak X6 satu persatu.

Double click fast-forward, bertambah cepat scanningku mengenai kami. Bagaimana aku pernah duduk di depan Oja dan bergurau dengan urakan, bagaimana aku, Sute, dan Michelle pertama kali jalan bareng ke MZ, curhat ditemani sepiring eskrim untuk bertiga. Dan seterusnya, dan seterusnya. Sampai scanningku macet di kejadian ini:

Sore hari setelah jumatan, di koridor lantai 3 gedung baru. Ozza asyik laptop-an nyambi kerja kelompok. Aku rebahan di kakinya Sute, curhat berdua. Entah bagaimana, tiba-tiba benang yang pertamanya hanya tersimpul erat buat kami berdua, terlilit benang baru dari Ozza. Mulailah perdebatan mengenai apa saja; pacar, status, sikap, bahkan soal kelas. Semua itu seakan topik yang ringan untuk kami bahas, tanpa melihat apakah itu berujung atau tidak.

Waktu bergulir cepat kalau ada mereka.

Kejadian tadi memberondong serentetan hal-hal yang berikutnya kami tekuni: nyore, conference di bbm, menggalau bertiga, sampai saling ledek. Kadang-kadang aku merasa terasingkan, berbeda pemikiran dan nggak nyambung, tapi disatu sisi yang lebih mendesak, aku tahu tidak ada yang lebih... hadir, lebih toleran, dan lebih seru dibanding mereka.

Stella yang moody, baik, ramai, blak-blakan, dan nyeleneh. Ozza si drummer yang pede, santai, dan memahami situasi. Aku belum mau kehilangan mereka.

Awal? Begini, aku tidak peduli bagaimana cerita awalnya kami dapat saling menjalin dan terikat. Yang kuperhatikan adalah prosesnya, hal-hal ajaib yang entah sudah kami lakukan ataupun belum untuk mengarungi waktu bersama. Kejadian yang saling kami bagi. Sekadar obrolan renyah untuk mengetahui kami sama-sama ada.
Semoga simbiosis ini terus mengalir, tidak hanya sekadar 3 tahun di SMA, tapi seterusnya, sampai tua, sampai beranak-cucu.

He su-ja, aku sayang kalian :)


This originally pick from Frea's blog, how sweet :') semoga kita tetap menggila menggaul dan menggalau bersama sampai tua nanti deh. I love both of you too, dude! :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar