Jumat, 28 September 2018

Pasak

Pernahkah kau merasa seolah-olah seluruh dunia membencimu?
Bahkan alam yang bisu saja juga membencimu.

Pernahkah kau merasa bagaikan tak lebih dari seonggok sampah organik?
Rasanya ingin sekali menjadi serpihan, ditiup angin, dan menghilang begitu saja.

Di saat engkau merasa jatuh, terpuruk, tersesat dalam kegelapan tak berkesudahan, apa yang akan engkau lakukan?

Menghilang saja agar semua senang?

Atau bangkit, menancapkan kembali harga dirimu, dan menunjukkan pada semua orang bahwa engkau dapat melampaui semua sumpah serapah yang mereka ucap?

Kamis, 14 Juni 2018

Hari Lebaran

Hari ini adalah hari Idul Fitri. Walaupun aku tidak merayakannya, tapi kurang lebih, hari di mana semua orang akhirnya berkumpul dengan keluarga besarnya--yang hanya bisa satu tahun sekali. Kulihat di media sosial, orang-orang yang mengunggah kebersamaan mereka bersama keluarga, bercanda dan tertawa, dan makan-makan enak. Hmm, bahagianya.

Kemudian aku berkaca pada diriku sendiri.
Aku?
Aku tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan, karena satu dan lain hal.

Iri? Pastinya.
Terkadang ingin rasanya menangis. Membayangkan diriku di dunia paralel. Andai saja aku terlahir menjadi orang lain, di dalam keluarga yang lain, mungkin saja aku dapat merasakan kehangatan dan kebersamaan keluarga besar seperti mereka.

Ayahku meninggal saat aku masih remaja.
Ibuku? Anak tunggal, yang juga tidak punya keluarga besar.

Mengapa aku harus menjadi aku?

Kemudian aku berkaca lagi pada diriku sendiri, bahwa penyesalan tiada gunanya.
Karena seperti ini lah aku terlahir.

Mengapa harus menangisi hal yang tidak ada? Kalau aku memiliki kerabat, sahabat, teman, yang semuanya sudah seperti saudara?

Yang dapat mengubah hidupku ke depan bukanlah menangisi masa lalu, melainkan terus berjuang untuk sekarang dan masa depan. Dan selalu bersyukur atas apa yang sudah dimiliki.

Karena semua orang, memiliki lembaran bukunya masing-masing. Semua unik. Tak sama satu dengan yang lain.

Rabu, 07 Februari 2018

Siksa ini terus menjalar ke dalam ruang kosong yang masih tersisa,
Kala engkau tiba-tiba melesat ke dimensi yang berbeda
dan tak lagi memancarkan kehangatan
yang biasanya melingkupiku setiap waktu,
Kini hanya gelap, kosong, dingin, dan rindu yang dapat kurasa
Tiada mengapa asalkan cahayamu masih dapat kupandang dari kejauhan
Untuk memastikanmu tetap ada di sana
dan akan kembali bersamaku

Karena aku tahu,
sejauh apapun kita terpisah
Ruang dan waktu takkan pernah menjadi pembatas.
Ribuan bintang telah menjadi saksi dan jejak mimpi kita
yang menjadi jalan penuntun kita untuk selalu kembali

Biarkan siksa rindu ini hanya menjadi langit gelap yang luas, kosong
dan tak berarti

Karena semesta telah dan akan selalu mempertemukan kita lagi.

Selasa, 11 April 2017

Serpihan Waktu

Setiap insan
Pasti memiliki kepingan masa lalu
yang walaupun sudah berakhir, namun tetap terkristalkan dan abadi

Katamu, akulah yang akan selalu kau simpan
Untuk kini, nanti, dan seterusnya
Namun mengapa
Kau kristalkan seluruh aksaraku
Bersama dengan seluruh serpihan masa lalumu yang masih tertumpuk rapih

Ketika kau ingin menghidupkanku
Kau juga akan menghidupkan mereka
Lantas di manakah, letak perbedaan masa lalu dan masa depan

6/4/2017

Minggu, 19 Maret 2017

Lagu Favorit

Sore itu, di tengah hingar bingar kota metropolitan
Di dalam keramaian tempat pemuas hasrat para kaum kapitalis dan hedonis ibukota
Aku duduk sendiri di sudut

Bising, bahkan lagu yang diputar pun tak dapat terdengar!
Kemudian aku mencoba mengasingkan diri, mengabaikan dunia
Kupasang headset di kedua daun telingaku, menghindari suara-suara di sekitar
Namun, puluhan lagu yang terputar juga ternyata tak dapat menenangkan hatiku

Tiba-tiba, terputar lagu yang pernah kita dengarkan berdua.

Kemudian aku tersadar,
Satu-satunya lagu yang ingin kudengar sekarang
hanyalah suaramu.

Sabtu, 18 Maret 2017

Koma

Di malam yang dingin
Senyum dari bibir merahmu
Tatapan penuh harap dari kedua bola mata cokelat beningmu, dan
kelingking yang saling bertaut
sudah cukup membuatku hangat
Janji untuk takkan pernah saling pergi, selamanya
Membuatku aman dan nyaman untuk pertama kali dalam hidup

Tiba-tiba, air mukamu berubah menjadi sendu dan penuh sesal
Ternyata petir datang menghadang, menyengat, menusuk dan menghancurkan apa yang telah kubangun.
Menyadarkanku dari mimpi panjangku

Salah siapa? Salahmu? Salahku?
Bukan, namun mungkin keadaan dan hujan yang selalu mengalir deras kala senja
Kita berdifusi di waktu yang salah, di saat seluruh elemen yang melingkupi sesungguhnya belum pernah siap
Nafasmu telah mengalir dalam nadiku bagaikan oksigen
Yang tak kusadari, menghidupkan, sekaligus membuatku mati perlahan

Sebelum aku masuk ke hidupmu lebih dalam lagi, ijinkan aku untuk terdialisis
dalam air mata yang mengalir di malam menjelang pagi penuh kabut ini
Memberi jarak, ruang, dan waktu
Untuk kita

Namun kemudian, katamu, "Jangan pergi", sambil menarik tanganku erat
Seketika aku teringat kembali janjiku, untuk takkan pernah pergi.
Dan pelukmu selalu menjadi satu-satunya tempat untuk pulang.

Sabtu, 11 Maret 2017

Gerhana

Andaikan aku terlambat datang sedetik saja
Aku takkan pernah bertemu denganmu
detik itu
dan mengenalmu lebih jauh

Andaikan aku terlambat berjalan selangkah saja
Aku takkan pernah bertemu lagi denganmu
dan meneruskan langkahku bersamamu.

Andaikan aku terlambat membuka mataku sekedip saja,
Aku takkan pernah melihat dan mengerti
Definisi keidentikan dalam lain bentuk, seolah kembar yang terlahir dari rahim yang berbeda

Semesta, dengan dimensi ruang dan waktu yang ia orbitkan
Seolah mempertemukan kita, berdua,
dalam satu garis lurus
di antara jutaan partikel lainnya yang hanya dapat dihitung oleh Sang Pencipta

Walau butuh ribuan tahun cahaya untuk kita akhirnya saling bertemu, lagi.

Sabtu, 11 Februari 2017

Tiga Pagi

"Janji?"
" Janji."

Di tengah jalanan yang kosong dan sepi
Di antara angin dingin yang berhembus
Di atas tanah yang basah karena hujan
Di bawah payung tempat kita berlindung berdua
Di balik senyummu yang semanis dan seindah bulan sabit

Kita berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti tiga tahun lalu
Saat kita saling meninggalkan.

Rabu, 22 Juni 2016

Mortal

Selamanya adalah omong kosong.


Apabila kau ibarat Manusia;

Sekat di antara kita adalah Kematian;

dan Kenangan ibarat Debu

yang terurai oleh Tanah--memori.


Tahun demi tahun

Satu persatu partikel dirimu pupus termakan waktu

Tergeserkan oleh berbagai rumus kehidupan

Terhapus oleh kebencian yang mendalam!

Kebenciaan saat kau memutarbalik badan dan membiarkanku sendiri di balik sekat

kebencian hasil konversi air mata yang sia-sia.


Kebenciaan karena.. Rindu yang terbendung.

Kebencian karena ketidakadilan semesta yang tidak pernah mengijinkanku memilikimu.


Terkadang apabila bulan datang

Menyilaukan sepasang mata yang kemudian memecah tangisnya

membasahi tanah

Bayangmu kembali lagi.


Selamanya bukanlah kita

Selamanya adalah sekat itu;

Sekat yang meniadakan kata penghubung di antara kau dan aku.


Namun selama dunia belum berakhir,

ingatanku, dan perasaanku padamu

akan selalu abadi

dengan tulisan ini.

Selasa, 17 Mei 2016

Pantai sama berpasir
Lautan sama berombak.
Kapal yang sempat singgah di tepi
Pun akhirnya tergoyahkan oleh gulungan ombak,
menarik jangkarnya dan pergi lagi.

Biarlah semua berlalu-lalang, singgah dan pergi
Ombak, kapal, badai, aku tak peduli
Enyahlah,
Karena aku tidak diciptakan untuk berpenghuni.

Rabu, 27 Januari 2016

Kampung Halamanku.

"Pulang"
hanyalah frasa yang berlaku di masa lalu
Karena,
waktu itu, masa-masa itu,
dan orang-orang itu,
tak akan pernah kembali menyambut kedatanganku
dan hanya menjadi sosok maya di dalam ingatan dan tersimpan di ruang hati yang terselubung.

Yang tersisa untuk pulang hanyalah kota ini, kampung halamanku.
Namun, setiap sudut kota ini
selalu mengorek kembali luka yang sudah susah payah kututup selama di kota rantau.

Sudut-sudut yang pernah kusinggahi dan memiliki cerita tersendiri, bersama orang-orang yang sudah tiada. Cerita yang kini hanyalah kenangan di dalam memori.

Sudut,
Tempat aku dan mereka pernah tinggal.
Toko buku tempat mereka selalu membelikanku buku.
Warung dekat rumah langganan kita.
Mall yang sering kita singgahi dan di sana mereka bilang, "pilihlah baju manapun yang kau suka, akan aku belikan".
Bioskop tempat kita sering menonton.
Tempat makan kesukaan kita. Kedai es krim favorit kita.
Tempat aku memberikan kejutan di saat ulang tahun mereka.
Tempat aku dan mereka suka parkir seenaknya dan cukup mendengarkan lagu di mobil.
Tempat kita melukiskan impian masa depan kita.

Tempat mereka dirawat saat sakit. Saat aku menemani mereka hampir setiap malam.

dan juga tempat mereka disemayamkan dan dikubur.
Tempat mereka meninggalkanku selamanya.

Walaupun mereka telah tiada di dunia ini dan hanya hidup di masa lalu,
setidaknya masih tersisa tempat-tempat kita pernah berpijak bersama
Ijinkanlah aku, yang masih ada di dunia ini,
mengingat dan menyimpan semua kenangan kita di kampung halamanku.

Agar kampung halamanku dapat menjadi rumah
di mana aku dapat mengabadikan semua kenangan yang takkan bisa terulang lagi.
Biarkan kampung halamanku menjadi tempatku pulang
dan mengulang kenangan-kenangan itu di dalam otakku sendiri, kapanpun aku ingin.

Selasa, 17 Desember 2013

North and South Pole

Jarak dan dunia yang berbeda, apalagi yang perlu dipertahankan? Tanyakan pada logika, ia sudah muak dengan berbagai kebodohan yang kita lakukan untuk mencoba bersatu.
Tetapi, ketika kau ingin sekali melepaskan diri dari semuanya, seperti ada yang menahan langkahmu untuk menjauh dan menarikmu kembali. Mengapa? Karena dua kutub magnet yang berbeda menyebabkan gaya tarik-menarik. 

Namun, kutub utara tetaplah kutub utara, dan kutub selatan tetaplah kutub selatan. Kita berbeda, takkan pernah bisa menyatu dengan cara ilmiah dan mukjizat apapun, selamanya.

Milestone

2013. Banyak yang terjadi tahun ini, nggak bisa dikatakan tahun sial juga sih soalnya emang semua ini udah kehendak dariNya.. Mungkin tahun ini akan aku kenang seumur hidup, sebagai semacam milestone. Semacam pembatas masa lalu dan masa depan, dan dari tahun ini pula aku dipaksa untuk bangkit, untuk benar-benar mempersiapkan masa depan dengan kesadaran bahwa aku cuma sendirian di dunia ini dan bukan siapa-siapa tanpa Tuhan yang membimbing langkahku. Benar-benar hanya Dia...

Tahun ini, sangat banyak perubahan yang terjadi dalam hidupku, perubahan yang benar-benar mengubah hidupku secara total.
Aku ditinggal pergi oleh seseorang yang sangat kusayangi, selamanya. Dan ya, nggak akan bisa bertemu lagi dengan beliau. Rindu pun selalu menusuk hati dan pikiranku, rindu akan sesosok orang yang paling penting dan paling kucintai, rindu yang nggak akan bisa terobati, seperti ada sesuatu yang hilang karena banyak sekali kebiasaan yg kulakukan dengan beliau, yang kini telah menjadi kenangan, dan perasaan kecewa juga karena aku belum melakukan yang terbaik semasa beliau hidup..
Saat itu aku mengalami tekanan batin yang amat sangat, kesabaran dan kekuatanku benar-benar diuji olehNya... Dan aku disadarkan bahwa semua yang kumiliki dan kucintai di dunia ini, semuanya hanya dipinjamkan olehNya dan nggak akan selamanya jadi milikku, nggak ada yang abadi di dunia ini, karena kehidupan yang sesungguhnya bukanlah di dunia, namun di keabadian. Kenapa harus sedih? Toh, he's in a better place now.

But show must goes on. Aku tetap harus menjalani hidupku. Bahkan, kehidupan baruku. Aku harus memulai lembaran baru tanpa kehadiran beliau disisiku, dan membuka lembaran yang benar-benar baru dengan memulai kehidupan baruku di perkuliahan, di kota yang baru pula. Aku benar-benar bersyukur dapat singgah di lingkungan yang baru, hingga secara tak langsung dapat sedikit melupakan semua kenangan yang manis sekaligus pahit dikenang di Surabaya dan benar-benar memulai kehidupan baru dengan lingkungan yang benar-benar lain disini.

Kesibukan perkuliahan membuatku lupa akan semuanya, apalagi semua di masa lalu. Namun terkadang, tak dapat dipungkiri aku kerap kali merasa sepi dan sendiri, seperti masih ada yang hilang di hatiku. Terkadang ada sesuatu hal yang secara tidak sengaja mengingatkanku pada kejadian di masa lalu, yang membuatku mengingat kembali, dan sadar kalau semua itu udah gak ada dan gak akan pernah bisa kembali. Kalau sudah begitu tiba-tiba hatiku merasa kosong, hahaha.
But once again, show must goes on. Nggak ada gunanya nangisin masa lalu, if only tears could change theirselves into money. Mungkin Dia memberikan aku segala cobaan berat di usia yang masih sangat muda ini agar aku memiliki kesadaran, kekuatan, dan ketabahan semenjak dini. Dari sini aku sangat sadar bahwa aku harus menghadapi ini semua dan berusaha keras untuk mencapai masa depan yang jauh lebih baik dengan segala keterbatasanku, sendirian, karena aku nggak bisa bergantung pada siapapun. I have to change the pain into success!

Aku sadar aku cuma sendiri, nggak ada siapa-siapa untuk bisa diajak berbagi secara mendalam. But, God is the only exception. Sekali lagi aku benar-benar disadarkan bahwa aku hanya memiliki Dia. Hanya Dia yang abadi, hanya Dia yang Maha Baik dan Maha Mengetahui, sementara semua hal di dunia memiliki keterbatasan dan tak akan selamanya, karena semua itu hanyalah pinjaman daripadaNya.

Katanya sih, love what you have now, before life teach you to love what you lost.. Betul banget sih, cuma jangan terlalu bergantung aja sama apa yang ada sekarang, because nothing lasts forever. Just do the best now and for the sake of your future!
ketika tak bisa melukiskan semua perasaan dan pikiran dengan kata-kata,
dan sehelai kertas kosong--tanpa tulisan apapun di atasnya--yang diremas atau disobek sudah cukup menggambarkan dan mewakilkan semuanya

Sabtu, 15 September 2012

Kisah Terang dan Gelap

"Bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"


Kami memang bukan cat warna, yang satu dapat dicampur dengan warna lain sehingga dapat menghasilkan warna baru. Kami bukan bunyi, yang jika dibunyikan bersama, akan bersatu menghasilkan bunyi yang lebih keras. Kami bukan zat kimia, yang dapat direaksikan satu dengan yang lain kemudian menghasilkan zat baru.
Kami bukan sel sperma dan sel telur, yang bila bertemu akan bersatu menghasilkan kehidupan baru.
Kami bahkan bukan air dan minyak, yang masih dapat disatukan dengan koloid.

Kami, Terang dan Gelap.
Gelap sangat membutuhkan Terang untuk menerangi sudut hatinya. Namun bukan hanya Gelap yang haus akan Terang.
Terang tak akan bisa bersinar jika tak ada Gelap di sisinya. 
Tanpa Terang, Gelap akan selamanya kelam dan hampa. Tanpa Gelap, Terang tak akan bercahaya. Mereka saling membutuhkan, walau saling terpisah.

Kami begitu dekat. Dan, kami bahagia. Meskipun tak dapat meraih satu sama lain. Tak dapat menyentuh hangatnya Terang dan sejuknya Gelap. Apalagi melebur jadi satu.
Kami abadi, walaupun semu. Inilah suratan takdir.

Kami saling melengkapi, walaupun takkan pernah bisa bersatu.



Salam hangat,


Terang   
yang bercahaya dalam relung hati Gelap

Malam Minggu Merah Muda

Kami duduk bersila, saling bertatapan. Dalam. Penuh makna.

Matanya yang selalu menyambutku dengan penuh sinar kehangatan, seolah tersenyum, langsung mencerahkan hatiku. Hatiku yang pudar, seiring cinta yang terkikis oleh waktu. Setidaknya kini, ia membuatnya menjadi merah muda.

Seperti biasa, mata itu selalu menatap mataku tajam, seolah merapalkan mantra untuk dapat menyihirku masuk kedalamnya. 
Aku mengalah, ia telah berhasil mengunci pandanganku, yang tak kuasa mengalihkan tatapan sedikitpun darinya. Kubiarkan ia menang dan mengenggam kunci hatiku sebagai pialanya. 

Matanya yang lebar dan berbinar-binar, menunjukkan banyak arti disana. Mengajakku larut, dan tenggelam menyelami dunianya, yang tak pernah nyata. Aku terjebak.

Ia memang bukan sosok yang banyak bicara. Ia selalu menyimpan isi hatinya sendiri dalam memorinya yang kian sempit, tanpa bisa mengungkapkan.
Ia cenderung pendiam; dan pasif. Seringkali, aku harus memulai terlebih dahulu. Namun, aku tak banyak menuntut.
Mata itu, cukup menjelaskan segalanya. Membuatku mengerti.
Aku bahagia, dalam kebisuan.

Malam minggu yang gelap dan sunyi. Disinilah kami, insan yang kesepian.
Aku, dan laptopku.


Jumat, 14 September 2012

Mengapa Aku Tak Dapat Berotasi?

Aku masih disini, masih melekat dalam ruang hampa tanpa batas waktu dan ruang. Dalam kegelapan.
Sudah berjuta-juta tahun lamanya, yang entah sejak kapan, bahkan saking lamanya, aku lupa menghitung waktu. Begitu lama... Tak tahu sampai kapan aku harus begini. Sama tak tahunya seperti aku tak tahu sejak kapan aku dilahirkan.

Tidak hanya aku disini, mereka juga bertaburan di sekelilingku. Mereka, yang berbeda namun bernasib kurang lebih sama sepertiku. 
Namun, aku bisa apa? Hanya bisa mematung disini, memandangi mereka. Hanya bisa menyapa mereka dari kejauhan, tanpa bisa meraihnya. Sama sepertiku, yang sulit untuk digapai.
Terkadang, aku bersyukur dan berdecak kagum kepada Sang Pencipta, entah siapapun Dia, pastilah sosok yang sangat luar biasa. Sungguh besar karyaNya sehingga dapat menciptakan tata surya dan seluruh isinya yang jumlahnya tak terhingga ini? Termasuk aku, yang Ia ciptakan dengan kekurangan dan kelebihan. 
Aku, yang dapat terus bersinar. Menjadi terang di dalam gelap. 
Setidaknya, mungkin inilah fungsi utama aku dan mereka diciptakan. Memberi cahaya secara cuma-cuma kepada mereka, insan-insan yang buta dalam kegelapan.

Namun tak bisa ku pungkiri. Walau begitu banyak keindahan di sekitarku, aku masih merasa sendiri.
Merasa sangat kecil, di alam yang sangat luas ini. Bahkan, tak ada yang menyinggahi ruang hatiku. Aku begitu jauh. Aku begitu tinggi. Aku... Kesepian. Di dalam keramaian yang bagiku, begitu semu.

Tak ada yang pernah menyentuhku. Hanya kehampaan, dan kehangatan yang kupancarkan sendiri. 
Seumur hidup, belum pernah aku mencintai sosok lain, selain diriku sendiri. Aku, bintang kecil di angkasa biru.

Berbeda dengan planet-planet. Mereka bergerak teratur. Berotasi dan berevolusi, dengan siklus mereka sendiri-sendiri. 
Ah, mengapa mereka begitu beruntung? Dengan begitu mudahnya, mereka meminjam cahaya Matahari, sepupuku, untuk menerangi dunianya. Walaupun mereka tidak bercahaya dan berkilauan sepertiku, tapi aku selalu iri. Terutama pada, siapa lagi kalau bukan planet bernama Bumi.
Aku dan teman-temanku, yang berjarak sangat jauh dari Bumi, hanya bisa memberi sedikit hiasan kerlap-kerlip pada langit malamnya. Tak jauh beda seperti glitter dalam karton hitam.
Sungguh bahagia jadi Bumi, mengalami banyak perubahan setiap waktunya. Walaupun ia harus rela ruang-ruang hatinya ditempati. Sedangkan aku, kosong. Hanya bisa terpaku dan mematung disini. Tak berubah.
Tak berhenti bersinar mengisi kosongnya kegelapan, namun, tak pernah bisa mengisi kehampaanku sendiri.

Katanya, roda terus berputar.
Dan aku berbisik dalam hati. Mengapa aku tak dapat berotasi?

Rabu, 16 Mei 2012

(270) Days of Mothers

Jam pelajaran Biologi Pak Ubay. Yang kadangkala kuselingkuhi dengan headset dengan pandangan yang-pokoknya-bukan-ke-depan, karena tidak kuat melihat video-video mengerikan yang seringkali diputarnya (red: video operasi, anatomi manusia, dll) yang mungkin baginya menunjang belajar siswa. Hah.

Siang tadi, sekali lagi diputar beberapa buah video-video lain, atas request anak-anak. Kelas kami, XI-IA 3, sedang mempelajari bab Reproduksi Manusia.
Terdengar berbagai seruan.
"Pak! Video melahirkan Pak!"
"Iya itu! Lahir normal aja Pak."
"Lahir sesar dulu aja Pak!!!" seruan yang terdengar dari para anak cowok. Aku hanya terdiam, dalam hati aku mbatin, sedikit mangkel. Segitu semangatnya mau lihat video sesar, apa mereka nggak tau gimana penderitaan cewek yang harus melahirkan... Sedangkan mereka tak usah mengalaminya, hanya melihatnya.
Di sisi lain, ya, aku hanyalah anak gocik yang tidak hobi melihat video bagian-dalam-tubuh-manusia, apalagi mengetahui kenyataan kelak aku akan mengalaminya.

Pak Ubay pun menyetel video lahir sesar tersebut dan... Jeng jeng. Tampillah seorang wanita yang kandungannya sedang diobok-obok oleh dokter, berusaha mengeluarkan bayi di dalamnya.
Serentak seluruh anak cewek di kelasku berteriak histeris, terutama aku. Aku langsung membalikkan badan, tidak sanggup melihat lagi, menangis, dan berteriak, "Emoh.. Emoh..!" Ya Tuhan, begitu mengerikannya.
Teringat sekitar 11 tahun lalu, saat Mama melahirkan adikku dengan operasi sesar. Ternyata inikah yang disebut sesar......
Begitu beratnya tugas seorang ibu untuk menjaga kandungannnya tetap sehat dan kelak dapat lahir dengan normal, sehingga tidak harus lahir dengan sesar.. Jauh lebih berat lagi, agar anaknya dapat lahir tanpa suatu cacat apapun.

Setelah video obok-obok-perut tersebut, dilanjutkan video lahir normal. Terlihat seorang wanita yang berjuang mengeluarkan anaknya dengan susah payah, ngeden, dan tangisan kesakitan yang menggelora. Dan akhirnya... Lahirlah seorang bayi yang lucu. Aku jadi ikut nangis, membayangkan kelak nanti aku harus mengalami fase itu..
Ya Tuhan, kenapa aku harus menjadi wanita. Namun ini juga salah satu anugerahMu untukku yang patut disyuuri, adalah sebuah bentuk kehormatan untuk dapat melahirkan ciptaanNya yang baru di dunia ini.

Video tersebut pun dilanjutkan dengan video-video lain. Tentang perkembangan bayi 9 bulan di dalam kandungan, dari awal terbentuknya sampai ia lahir dari kandungan ibunya. Begitu rumit, dan ajaib. Lebih dari mesin secanggih apapun. Begitu hebatnya karya tangan Tuhan..
Pikiranku melayang kemana-mana. Hah, tugas awal yang sudah cukup berat. Aku semakin merasakan beratnya menjadi seorang ibu, harus menjaga dan hidup bersatu dengan janinnya selama 9 bulan lamanya. Dengan sangat hati-hati tentunya.

Dan ketika Pak Ubay menyetel video tentang orang berkepala dua... Satu badan, satu jantung, dua kepala, dua otak, dua pikiran. Pintu hatiku terketuk sekali lagi. Begitu berat pastinya hidup mereka. Mereka juga tidak ingin seperti itu, apalagi ibunya.
Aku sangat berterimakasih dan bersyukur seketika itu juga, karena walaupun mungkin masih banyak kekurangan pada diriku, namun aku lahir dengan normal tanpa cacat fisik apapun. Terimakasih, Tuhan..

Terimakasih Mama, karena telah mengorbankan segalanya demi melahirkanku ke dunia, mengorbankan kebebasanmu, menahan rasa sakit, menjagaku sebisa mungkin, memberikan asupan yang terbaik, hidup bersatu dalam satu tubuh selama 270 hari..
Dan melahirkanku di dunia ini dengan tanpa kurang suatu apapun.

Terimakasih Mama, karena telah menerimaku apa adanya dengan kekurangan dan kelebihanku. Karena telah beribu-ribu kali memberikan maaf atas segala kesalahan yang ku perbuat.
Aku pernah sampai 1 tahun nggak kontak blas sama Mama, karena fatalnya masalah yang ada di antara kita. Bisa bayangkan betapa sedihnya hatiku... Tapi aku yakin mungkin dia lebih sakit. Pasti sakit sekali, bila anak yg telah kau kandung dan lahirkan dengan susah payah dan sakit yang luar biasa, menyakiti hatimu secara sengaja maupun tidak sengaja. Maaf, Mama...

Terimakasih Mama, atas segala pengorbananmu. Telah membanting tulang sendirian untuk membiayai dan memberikan yg terbaik untukku, merawatku dari awal aku hinggap dalam rahimmu, hingga kini, walaupun sekarang kita dipisahkan oleh jarak.

Kalau ada orang yang bertanya, siapakah orang yang paling hebat di dunia ini? Aku akan menjawab, "Mama."

Sabtu, 12 Mei 2012

Lukisan Kehidupan

Kugoreskan pensil dalam selembar kertas putih di hadapanku, membuat sebuah garis, tebal. Dan kemudian saat merasa janggal, aku menghapusnya... Kemudian aku menyadari sesuatu.
Walaupun goresan pensilnya sudah terhapus, namun masih meninggalkan bekas walaupun aku sudah menggesekkan penghapus itu sekuat tenaga.

Seperti kehidupan. Akan beda ceritanya kalau kamu menggoreskan pensil tipis-tipis karena keragu-raguan, dengan mudah gambar itu akan terhapus.
Saat kamu berharap dan melangkah pasti, menggoreskannya tebal-tebal dengan keyakinan, dan suatu saat kamu dituntut untuk menghapus semua garis, alur cerita yang telah kamu lalui... Maka akan selalu membekas di hati. Dalam pikiranmu, dalam hidupmu. Dalam lembaran kertas itu.

Kamu dapat memberikan warna dalamnya, untuk menutupi semua bekas yang ada, mengisi sketsa yang semu dengan paduan warna yang indah.
Dan saat kamu terlanjur mewarnainya dan lagi-lagi menyadari kejanggalan dalam warna-warni lukisan tersebut,
Dapatkah kamu menghapus semua warna tersebut dan  mengembalikan kertas seperti sedia kala?

Pensil warna, masih bisa terhapus walaupun masih sedikit membekas.
Krayon, cat air... Kamu hanya dapat merusak kertasnya apabila mencoba menghapusnya.
Semakin pasti, semakin sulit terhapuskan.

Yang bisa kamu lakukan adalah,
Memilih diantara dua pilihan: menyimpan kertas tersebut, atau membuangnya
Dan membuka lembaran baru, memulai kembali dari nol
Atau tetap melanjutkan lukisan tersebut, mencoba membenahi warna yang janggal
Dengan mencampurkan warna lain sehingga menghasilkan warna yang kamu inginkan

Seperti itulah kehidupan.

Selasa, 24 Januari 2012

Hello Seattle.

Lihat dari judulnya terlihat sophisticated ya, seolah-olah habis bepergian dari luar negeri.
Padahal sesungguhnya yang ingin kuceritakan adalah... Kelasku yang terletak di pojok lantai 2 SMA Negeri 2 Surabaya. XI-IA 3.
Dan sesungguhnya HP-ku baru saja mendendangkan lagu Hello Seattle-nya Owl City ._.

Sudah sekian bulan tanpa postingan baru dariku. Bukan karena tidak ada ide untuk posting, namun saking banyaknya yang dapat diceritakan sehingga aku bingung memilahnya, dan akhirnya sampailah pada salah satu bagian terpenting dalam hidupku, kelas.

Pertama melihat namaku di daftar nama kelas XI-IA 3, sedikit excited juga. Kelihatannya anaknya asik-asik. Aku juga sekelas lagi sama 2 orang dari kelas 10, yaitu Rere dan............. JOHAN. Johan. Johan. (entah apa maksudnya disebut 3 kali, sebuah bentuk majas, atau memang dia yang dihitung 3.)

Dan setelah memasuki kelas tersebut, ya memang tidak salah feelingku. Anaknya memang asik-asik, rame, dan friendly. Hari pertama masuk kelas semua bersalam-salaman satu sama lain dan kenalan ._. Bayanganku waktu itu, kelas ini akan menjadi kelas yang kompak. Dan entah siapa yang membuat, kita pun sepakat menjuluki kelas kita Seattle (Sebelas Ipa Telu Intelligent).

Namanya juga awal, pasti anak-anak masih rajin-rajinnya. Sempet panik sih, mana pinter-pinter lagi. Tapi seiring waktu, mulai terkelupas kedoknya. Akhirnya kebuka deh malesnya, buntuannya, ramenya, nakalnya. JABLAYNYA.
Nah ya gini ini baru gue suka, cara belajar yang gak terlalu terforsir, santai, fun. Dan mau bandel kayak gimana, kalo dasarnya emang cerdas ya gimana lagi. Di kelas urakan gak karuan, tapi pas disuruh maju? Hampir semua bisa. Pas ulangan? Nilainya bagus-bagus. Ajaib. Haf.
Tapiiiii kelemahannya, karena virus malas diantara kami merata, jadinya susah pol kalo diajak koordinasi dan kerja kelompok. Kalo gak ada yang aktif gak bakal bisa jalan.

Semenjak masuk IA 3 ini aku semakin nakal memang :)) jadi lebih males, nyeleweng, mbolosan, tukang tidur di kelas ._.v ampuni, semester 4 ini harus taubat sepertinya. Tapi entah kenapa kelas 11 ini lebih niat belajar daripada kelas 10. Mungkin karena persaingannya kali ya yang dengan cara santai, jadi membuat lebih terpicu.
Oh iya, semenjak kelas 11 jadi jablay juga, tukang gombal -_- cetakan IA 3 memang rata-rata seperti itu. Ngggrrrrhhh.

Lalu ada satu lagi hobi kami, yaitu dugem di kelas. Sejak setiap kelas dipasang sound system, tentu saja benda itu kami manfaatkan dengan baik. Berbagai jenis musik kami alunkan untuk melepas penat, dan ada saatnya dimana lampu dimatikan dan kami pun ajeb-ajeb di kelas dengan musik disco.
Nah, saat pelajaran yo jek diterusnooo ae. Kami memilih untuk menyetel lagu Gramed kalau saat pelajaran. Alasannya, musik klasik dapat membantu belajar. Pengecualian, Pak Pebe. Karena dia selalu minta disetelkan lagu dangdut dan lagu Ayu Tingting kesukaannya.
Namun, pukulan pun menghantam kami. Jack-nya soundsystem pupus entah kemana, jadi sampai sekarang Seattle Pub&Karaoke masih cuti. Ah sedih :(

Kalau disuruh menceritakan semuaaa yang telah terjadi dan ada di Seattle selama kurang lebih 7 bulan ini, buanyak sekali tentunya. Pokoknya intinya, I'm so excited and feel so wonderful to be here in this class! Beruntung masuk kelas ini, bukan kelas sebelah, kelas seberang, apalagi kelas atas. I'm belong here absolutely.
Tapi terkadang, yah masih ngerasa kalau bayanganku waktu itu belum terwujud. Ya, bayangan akan kelas yang kompak. Walaupun kita emang rame, tapi anaknya masih pada nggumbul dewe-dewe. Kurang menyatu secara keseluruhan siswanya. Bahkan kalau boleh jujur, walaupun kerjaanku guyon, gombal, dan ketawa-ketiwi sama anak-anak disini, tapi belum menemukan anak yang klooop pol denganku.
Tapi yasudahlah, semoga seiring berjalannya waktu, kami bisa semakin kompak. Amin. Tinggal 5 bulan lagi :3

I love you, Seattlers!